Sebuah Kisah yang Tak Sekadar Berawal dari Rencana Bisnis

Di Kraosan, misi utama kami
tertambat pada masyarakat Desil 1
& 3 di Magelang, wilayah di mana
akses pendidikan masih menjadi
tantangan terbesar.

Di sudut-sudut wilayah Desil 1 dan 3 Magelang, jalan menuju
pendidikan seringkali terhalang oleh lebih dari sekadar jarak fisik. Bagi
banyak keluarga di sini, biaya pendidikan tinggi terasa seperti
kemewahan yang tak tergapai.
Hal ini sering kali memaksa anak-anak
putus sekolah lebih awal demi membantu memenuhi kebutuhan
mendesak rumah tangga.

Jawaban Kami tumbuh di halaman belakang Magelang itu sendiri

Dalam upaya mencari jalan untuk
memutus rantai kemiskinan,
jawabannya ternyata tidak datang
dari luar, tapi ia berakar di
tanah kami sendiri.

Dengan berfokus pada bambu Magelang, kami menyadari bahwa
dengan mengubah sumber daya lokal yang tangguh ini menjadi
kemasan berkualitas ekspor, kami dapat menciptakan ‘mesin ekonomi’
berkelanjutan langsung dari dalam desa.

Bambu Magelang SEbagai Cikal Bakal Bahan Kraosan

Dengan ini, kami mampu memberikan penghasilan yang stabil bagi
para perajin kami—sebuah penghasilan yang menghormati warisan
leluhur mereka, sekaligus menjadi jembatan finansial yang dibutuhkan
untuk menjaga anak-anak mereka tetap bersekolah.

Navigasi di Tengah Pandemi & Krisis Ekonomi

Di masa ketika bertahan hidup dianggap lebih genting daripada bersekolah, para ibu di komunitas kami tidak perlu mengorbankan satu demi yang lain.

Salah satu perajin kami berhasil memperoleh penghasilan yang cukup
untuk membeli alat pendukung sekolah daring bagi anaknya. Melalui
seni kriya yang ia tekuni, masa depan sang anak tetap terjaga tanpa
terhenti selangkah pun.

Mengedepankan isu Ketiadaan Sosok Ayah

Tekanan ekonomi sering kali memaksa para ayah untuk merantau ke kota atau negara yang jauh demi mencari nafkah.

Dengan membangun industri yang berkelanjutan di desa sendiri, kami memastikan para ayah di Magelang bisa tetap hadir di rumah. Hal ini mengurangi celah ketiadaan sosok ayah, meringankan beban mental para ibu, serta menjaga unit keluarga tetap kuat dan tangguh.

Sekilas tentang pendiri

Segalanya bermula dari sebuah
uluran tangan di saat-saat tersulit.

Tribuana Desy Ariyanti - Founder of Kraosan


Tumbuh besar di Magelang, saya
melihat banyak pintu tertutup
oleh beban kemiskinan—sampai
akhirnya saya menemukan sebuah
tangan yang terulur dari
cakrawala, Beasiswa Bidikmisi.

Perjalanan Dewi tidak dimulai di ruang rapat direksi, melainkan di
desa-desa bersahaja di Magelang, Jawa Tengah. Tumbuh dalam
lingkungan di mana keterbatasan ekonomi sering kali mendikte masa
depan, Dewi merasakan sendiri betapa beratnya hidup dalam jerat
kemiskinan.

Beasiswa “Bintang”

Kraosan X Hoshizora Foundation


Saya menyadari bahwa agar
sebuah desa benar-benar bisa
bangkit, jembatan menuju masa
depan (pendidikan) harus tetap
terbuka bagi siapa saja.

Kraosan bekerja sama dengan Hoshizora Foundation untuk
menyalurkan sebagian dari hasil penjualan kami ke dalam Beasiswa
Bintang. Melalui kolaborasi ini, kami memastikan bahwa setiap produk
yang Anda beli berkontribusi langsung bagi pendidikan adik-adik asuh
kami—sebuah misi yang kini telah berhasil mencapai Angkatan ke-10.

Dampak sosial kami dikelola bersama Hoshizora Foundation, sebuah lembaga non-profit yang
berdedikasi untuk menyediakan kesempatan pendidikan yang setara bagi anak-anak Indonesia.